Jika tak ada aral melintang, Pangeran Charles beserta sang Istri Duchess of Cornwall akan berkunjung ke Indonesia pada 1 hingga 5 November 2008 nanti. Itu merupakan kedatangan Charles setelah 19 tahun dari kunjungan terakhir ke Indonesia di tahun 1989.

Menurut Kedutaan Besar Inggris yang dikutip oleh The Jakarta Post Kamis (23/10) lalu, kunjungan pangerang ke Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar, akan memfokuskan pada proses dialog dan pemahaman lebih besar antarkeyakinan, mempromosikan masa depan dengan tingkat karbon rendah, dan kesempatan bagi tenaga muda. Terlepas dari kontroversi dalam kehidupan pernikahan yang pernah ia alami, Pangeran Charles lama dikenal sebagai salah satu tokoh Barat yang dekat dengan Islam. Dalam beberapa kali kesempatan formal, Ayah William dan Henry ini tidak segan-segan untuk mempromosikan Islam bahkan mengutip sabda Nabi Muhammad.

Tak mengherankan bila sempat muncul rumor jika sang pangeran telah berpindah memeluk Islam. Pada Oktober 1996, koran Evening Standard di London mengutik pernyatan Mufti Besar Syprus yang mengklaim jika Charles telah memeluk Islam. “Itu terjadi di Turki. Oh ya, ia berpindah agama, benar,” Dalam kutipan tersebut mufti itu juga berkata “Ketika kamu kembali pulang, cek seberapa sering ia bepergian ke Turki. Kamu akan menemukan rajamu di masa depan ialah seorang Muslim,”. Itu hanyalah beberapa laporan yang mengaitkan Pangeran Charles dan Islam—dan sering digaris bawahi oleh pengarang Ronni L Gordon dan David M Stillman di Middle East Quarterly pada 1997.


PANGERAN CHARLES: Meresmikan Masjid Ahl-as Sunna di London, beberapa waktu lalu.
Klaim tersebut bisa jadi dugaan, namun itu bukan tidak berdasar. Beberapa kali kesempatan dalam kurun tiga dekade lalu, Charles banyak bicara untuk mendukung baik Muslim dan Islam. Pada tahun 1989, saat Ayatollah Ruhollah Khomeini mengeluarkan fatwa mati kepada Salman Rusdi, Charles bereaksi atas dekrit mati itu dengan mengajukan sisi positif Islam yang menawarkan kehidupan berbeda pada warga Inggris yang cenderung memiliki kehidupan spritual kosong.

Lalu pada tahun 1993, saat berpidato di Universitas Oxford, ia berkata “Penghakiman kita terhadap Islam telah didistorsi secara menjijikan akibat norma ekstrem. Kebenaran sesungguhnya, padahal sangat berbeda dan lebih kompleks. Pemahaman saya, hal-hal ekstrem seperti potong tangan, sangat jarang dipraktekkan. Prinsip panduan dan spirit dalam Islam yang diambil langsung dari Al Qur’an ialah kebersamaan, kesederajatan, dan kasih sayang. Islam dapat mengajari kita cara memahami dan hidup damai di dunia. Hal yang miskin dimiliki Kristen karena telah menghilang,”

Kemudian di tahun 1994, melalui dokumentasi TVRI, Pangeran Charles mendeklarasikan dirinya sebagai “Defender of Faith” ketimbang “Defender of the Faith”. Pernyataan ini bahkan sempat membuat John Major, perdana menteri waktu itu berkomentar “Sedikit aneh jika Pangeran Charles menjadi Pembela atas keyakinan tertentu sedangkan ia tidak masuk didalamnya,”

Tak berhenti di sana, dalam pidato di Pusat Konferensi Bangsa Asing pada 13 Desember 1996, ia menganjurkan pendidikan dan filosofi Islam untuk membantu pemuda Inggris menciptakan sudut pandang lebih sehat tentang dunia. “Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari dunia Islam. Dimanapun orang di penjuru dunia ingin belajar tentang Inggris. Namun di Barat, sebagai gantinya, kita perlu diajari pendidik Islam bagaimana belajar dengan hati sebagaimana dengan kepala,” ujarnya.

Bahkan dalam pidato yang diberi judul A Sense of the Sacred: Building Bridges Between Islam and the West, Pangeran Charles tak segan mengutip beberapa frase dalam Al Qur’an dan juga Nabi Muhammad. Ia tidak terlihat bermasalah mengambil referensi dari dua sumber tersebut.

Pada tahun 1997, surat kabar Daily Mail di London, melaporkan jika ia telah membentuk panel terdiri 12 “orang bijak”—fakta asli ialah 11 lelaki dan satu perempuan—untuk menasehatinya tentang budaya dan agama Islam. Sesudah itu, tidak ada badan lagi yang didirikan untuk menasehati ia dari agama lain di masa depan.

Ia juga menjadi wakil kepala donatur utama di Pusat Studi Islam, Universitas Oxford. Pusat itu didirikan dari sumbangan Arab Saudi sebesar 33 juta dolar dengan tujuan menempatkan Islam di jantung sistem pendidikan di Inggris.

Seperti tak ingin berhenti, di tahun 2003 Prince Charles giliran terbang ke Amerika Serikat (AS) . Misi kunjungan delapan hari tersebut adalah untuk membujuk Presiden AS, George W. Bush dan warga Amerika tentang kebaikan Islam. Ia memberikan suara perhatian pribadinya kepada Bush, atas pendekatan konfrontasi Amerika terhada negara-negara Muslim dan kegagaln mereka mengapresiasi kekuatan Islam. Ia bahkan menganggap AS sangat intoleran terhadap keberagamaan.

Semua pidato yang pernah ia sampaikan kini disimpan dalam salah satu situs resmi kerajaan di internet yakni www.princeofwales.gov.uk Apakah benar ia berpindah agama di Turki, mungkin tak seorang pun akan tahu. Bisa jadi karena alasan tak ingin menyerahkan hak tahta Kerajaan Inggris, Charles pun membuat selubung total.

Terlepas dari berpindah Islam atau tidak—yang tentu akan disangkal kuat oleh juru bicara Istana Buckingham—ia telah menjadi figur kuat di kalangan Timur Tengah dan negara-negara Islam.

Negara-negara di Arab mengapresiasi Charles sebagai sahabat tulus dan jujur bagi dunia Islam. Akademisi Inggris, John Casey dari Universitas Cambridge mengatakan status pahlawan Pangeran Wales bagi dunia Arab bersifat permanen dan tidak ada figur Barat yang mendapat bentuk penghormatan semacam itu.

Toh ada jua pihak yang akhirnya diuntungkan oleh sikap Pangeran Charles. Beberapa pihak bahkan meyakini jika Kantor Asing Inggris menangkap popularitas Charles dan memanfaatkan sebagai titik temu dari kepentingan bisnis Inggris di negara Muslim. Dalam harian Telegraph, John Casey berkomentar, “Fenomena Charles of Arabia berada di sini, karena itu membantu menjalin hubungan komersial Inggris dengan negara Muslim../it/RioL


Pangeran Charles bersama Yusuf Islam